Yang Ia pilih; yang harus Ia relakan.


"Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya."
, ucap seseorang yang ingin meringankan kehilangan yang baru saja dirasakan. Ia membesarkan hatinya sendiri; sakit namun tak berdarah; perih tanpa luka. Mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu yang Ia pikir akan ada selamanya. 

Masih ada rasa yang tersisa meski sudah berbeda. Ada kekosongan yang tidak bisa Ia jelaskan; hanya bisa Ia nikmati. Bukannya Ia tidak berusaha, hanya saja usahanya selalu menguap sia-sia. Ia bukannya tidak ingin bertahan; Ia hanya tidak ingin bertahan sendirian. Ia bukannya siap menghadapi perpisahan; Ia hanya menunda sakit hatinya. Maka, satu yang bisa Ia lakukan saat ini, bergerak mundur dalam diam, berharap suatu saat Ia akan tau alasannya, namun untuk saat ini, Ia harus puas dengan kenyataan bahwa mereka sudah tidak lagi berada dalam satu lembar buku yang sama. 

Apakah hatinya terluka? Jelas. Ini bukan sesuatu yang Ia rencanakan. Ini bukan sesuatu yang sudah Ia persiapkan. Ia mencoba memahami, mencari alasan, mengulang berbagai kenangan, setidaknya Ia harus tau, letak salahnya dimana. Tapi Ia gagal, tidak ada satupun yang terlihat tidak masuk akal. Semua kenangan berputar dan Ia hanya bisa mengira-gira. Apakah memang sudah tidak sejalan? Apakah ada tutur katanya yang salah? Apakah ada hal yang tak bisa ditolerir? Berbagai apakah berterbangan di kepalanya malam itu. Ramainya isi kepala membuatnya terjaga. Tangan hangat yang memeluknya pun tidak bisa meredakan sebentar saja. Lantas, apa yang harus Ia lakukan? Ikhlas yang bagaimana lagi yang bisa Ia capai jika tidak tau apa yang harus diikhlaskan? 

Ia tidak membenci keadaan yang kini sudah menjadi kebiasaan. Ia mengerti, akan ada waktunya dinamika hubungan yang mati-matian Ia pertahankan akan berubah, walaupun Ia berharap itu tidak akan pernah terjadi. Ia tidak pula membenci pilihan yang orang lain buat; itu semua diluar kendalinya. Ia hanya berharap, jika suatu saat dapat penjelasan, maka Ia akan menemukan jawaban dari apa yang selama ini hidup dalam imajinasinya. 

Ya, imajinasinya yang tidak bisa lagi dikontrol. Skenario yang sekiranya tidak benar jadi teman penenangnya. Bagian mana yang seharusnya tidak mampir dalam kepala malah bertahan paling lama. Lalu bagaimana lagi Ia bisa meluruskan bengkok yang sedang dirasakannya? Bagaimana harus bertahan meski begitu banyak tanda tanya yang belum berhasil terjawab? 

Jadi, Ia melakukan satu-satunya hal yang masuk akal baginya, saat ini. Melepaskan apa yang sudah berjalan menjauh, merelakan apa yang tidak lagi ingin bertahan, memberi ruang untuk yang merasa terkekang. Ia tau, rasa kehilangannya tidak akan pernah sama. Arti mereka untuk masing-masing sudah berbeda, namun, hanya itu yang jadi alasannya bertahan. Ia harus mencari keindahan dalam perpisahan ini. 

This is the hardest decision I ever make. I did this for myself; for the sake of my overly sensitive heart. I notice everything, even if I didn't make any comment about it. I hope, when you think about me, the good memories flow, the good times recall. I hope, your life become as bright as your smile. I will always be here, watching you achieve the life you deserve. Thank you, and see you again. 

Komentar

Postingan Populer